Kami Tak Akan Pindah Kewarganegaraan


Kubah bangunan kecil itu lamat-lamat terlihat saat kendaraan roda dua yang kami tumpangi memasuki Dusun Camar Bulan, Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Matahari tak lagi menampakkan diri meski pengukur waktu masih menunjukkan pukul 17.45. Dusun Camar Bulan adalah wilayah pertama yang akan dimasuki pengunjung dalam perjalanan ke Desa Temajuk. 

Inilah satu-satunya akses negeri kita kewilayah ini. Di seberang sana, Desa Temajuk berbatasan langsung dengan negeri tetangga Malaysia. Pertengahan Oktober, Aksi Cepat Tanggap (ACT) menurunkan 2 orang tim untuk meninjau kondisi masyarakat di wilayah perbatasan Indonesia – Malaysia. Kunjungan ini juga dalam rangka persiapan pendistribusian hewan qurban. Wilayah perbatasan di Kalimantan Barat oleh ACT ditetapkan sebagai salah satu wilayah distribusi program Global Qurban.
Kami memberhentikan kendaraan, sejenak meluruskan badan yang payah setelah berkendara selama kurang lebih 3 jam. Kondisi badan jalan yang belum dikeraskan membuat sepeda motor kami harus terpeleset puluhan kali. Tak bisa dibayangkan bagaimana masyarakat di sini mengakses dunia luar dengan kondisi seperti ini.
Setelah meneruskan perjalanan – dengan kondisi jalan yang masih sama – kami akhirnya menapaki jalan beton di pusat pemerintahan desa Temajuk. Warga begitu ramah menyambut kami. Beberapa di antaranya menawarkan rumahnya untuk dijadikan tempat bermalam. Kami pun memilih rumah pak Johan, salah seorang ketua RT di sana.
Kondisi perekonomian warga masih berjalan stabil. Biaya hidup di sini memang lebih tinggi, sebab harga barang meningkat 20% dari harga normal. Bahkan harga beberapa jenis barang kebutuhan seperti minyak tanah dan bahan bakar gas membengkak dua – tiga kali lipat.
Kondisi ini akan semakin parah di bulan November sampai Maret, saat dimana musim Landas (Hujan badai) tiba. Akses jalan menuju desa ini akan terputus, yang berarti distribusi barang pun berhenti. Masyarakat memilih untuk diam di rumah, tidak melaut pun tidak berkebun. Warga akan bertahan hidup dengan cadangan makanan yang mereka punya. Ekonomi lumpuh, kerawanan pangan mengintai.
“Kondisi ini sudah berlangsung selama 22 tahun mas. Ini pun sudah lebih baik, ketimbang dulu, saat jalan belum berbentuk,” ujar Mansa ketua RT 16. 
Di sela berbagai kekurangan desa Temajuk, warga tak banyak berharap. “Kita hanya minta satu, bukalah akses jalan yang layak bagi kami, agar roda ekonomi berputar,” harap Mansa.
Sehari sebelumnya, tim ACT menyempatkan diri mengunjungi Desa Melano – Malaysia, yang berbatasan langsung dengan Desa Temajuk. Badan jalan yang terawat, akses transportasi laut yang selalu tersedia dan murah, gedung sekolah 4 tingkat dengan fasilitas yang serba gratis dan pos Polisi Diraja Malaysia yang selalu siaga di dekat garis batas. Kondisi yang bertolak belakang dengan Desa Temajuk.
Sekali lagi kami tertegun. Di tengah nasionalisme yang kian luntur di negeri ini, warga Desa Temajuk masih menunjukkan semangatnya. 
“Tak usah khawatir mas, kami belum berpikir untuk pindah kewarganegaraan, lagipula tak semudah itu untuk pindah. Kami terus membuka kebun di garis batas, agar garis itu tak bergeser,” jelas Mansa.
Kini bulan Oktober pun berangsur usai. Sebentar lagi musim Landas tiba. Dalam kesehariannya warga terlihat sibuk menyiapkan segala sesuatunya. Dalam lima bulan ke depan, sekali lagi warga akan melewati masa krisis. Tak bisa melaut pun tak bisa berkebun, perekonomian lumpuh, kerawanan pangan mengintai. Dan sekali lagi ketegaran warga Desa Temajuk akan diuji. (Ojan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s