Catatan dari Tanduk Afrika (1)



Kemuraman di Garissa 

Sungai, secara alami menjadi titik pertumbuhan penduduk. Juga di Afrika Timur, tepatnya di Garissa. Kota yang dilintasi Tana River – sungai besar di Afrika Timur itu cukup ramai penduduk di banding daerah lain di luar Nairobi. Kemuraman, sedang menyapa kota ini.

Terik menyengat di kepala, saat rombongan ACTion Team III Komite Indonesia untuk Solidaritas Somalia (KISS) – ACT memasuki Garissa, Sabtu (5/11/2011). Maklum, kami bertolak agak siang karena harus menukar dollar ke shilling – mata uang Kenya. Konversi 1 USD ke shilling antara 93 – 96. Penukaran jumlah besar, memang makan waktu. Kami menukarnya di money changer di Nakumat – retail serba ada – yang berdiri di jalan Mombasa. 

Sementara lama menanti penukaran, Farid Shan, pelukis sketsa yang sedianya akan merekam suasana pengungsi Somalia, sudah mengguratkan alat lukisnya. Sebuah sketsa pusat perbelanjaan di Nairobi, selesai sudah. 

Perjalanan panjang Nairobi-Garissa, nonstop kecuali mengurangi kecepatan setiap melintasi checkpoint yang dijaga polisi Kenya bersenjata. Keberangkatannya dari KBRI – tempat kami menginap – melintasi beberapa titik kemacetan karena Nairobi sedang gencar-gencarnya membangun. 

Jalanan, beberapa kilometer sedang di bangun, selain jalan layang dan pusat industri. Kebanyakan konstruksi ditangani kontraktor dari China. Logi China Road dan korporat domestik, berdampingan di sejumlah proyek konstruksi yang memacetkan jalan. 

Perjalanan Nairobi-Garissa, cukup lama, dari pukul 10.00-15.00 waktu setempat. Hal ini karena banyaknya checkpoint berpaku dan kemacetan keluar dari Nairobi. Pengemudi mobil sewaan kami, Mr, John dari Nairobi, amat cekatan mengemudi. Pria yang sudah 25 tahun menikah, tiga anak dari dua istri ini nyaris tak menurunkan kecepatan kecuali ada hambata di jalan. Cara nyopirnya juga tidak bikin penumpang mual. Sesekali kami tertidur, kecuali pak John mengerem atau berhenti memeriksa ban. 

Di Garissalah, sungai besar Kenya, Tana River yang tak pernah kering meski kemarau panjang membuat kerontang banyak daerah, berada. Kami menginap sekitar 1 km dari jembatan yang melintasi Tana River. Tepatnya di hotel Ainul-Qamar-2. Di belakang hotel, pasar yang bangunannya rata-rata beratap seng. Tak jauh dari hotel kami yang kelasnya sedang, ada hotel yang lebih tinggi kelasnya, Hotel Nomad. Di gerbangnya ada palang besi bersatpam yang selalu memeriksa setiap kendaraan yang masuk. 

“Maklum, di sini, banyak relawan asing berbagai negara, menginap,” ungkap Andhika P. Swantoro, relawan KISS yang sudah lebih dari sebulan meninggalkan Tanah Air.  

Garissa, sejatinya indah, dengan center of gravity berupa Tana River yang selalu mengalirkan airnya menyangga kehidupan manusia. Kini, kota itu kian muram. Pengungsi akibat konflik dan kekeringan panjang, sudah mendiami tepi-tepi jalan. Kontras, berhadapan dengan hotel dan pertokoan, bangunan darurat berupa gubuk bertiang kayu kering dan beratap dedaunan, kain atau terpal bekas, seolah mendemonstrasikan kecompang-campingannya.

Warga Somalia kondang sebagai pedagang. Meski mereka tinggal di gubuk, tak ada yang mengemis dengan menadahkan tangan. Mereka bekerja, bahkan berdagang batang pohon gids, atau siwak, sikat gigi khas Arab-Afrika. Seorang anak muda, menawari kami saat mengisi bensin tak jauh dari tempat kami menginap, sambil memperagakan cara menggosok gigi dengan batang siwak itu. 

Bergetar hati kami. Menginap di hotel, di depan orang-orang Somalia yang tidur alakadarnya terusir perang saudara dan ekses perubahan iklim nan ekstrim.  

Memandang sekilas ke sekitaran Garissa, kami optimistis, bisa membersihkan tepi jalanan dari wajah muram banyaknya pengungsi. Asal ada pekerjaan untuk mereka, juga shelter yang lebih manusiawi. Andhika menegaskan, ia sudah menyiapkan rencana pendirian pabrik pengolahan susu. Pengungsi bisa dilkatih untuk menjadi pekerjanya. 

“Kami masih mengupayakan modalnya, dan menjajaki operator di level manajemennya,” ungkapnya.

Melibatkan kampus Mustaqbal University, Garissa, bukan hal yang berlebihan. Hal itu bisa menjadi program pengembangan komunitas. Insya Allah juga bernilai dakwah. Apalagi kampus ini sudah menerjunkan para mahasiswanya menjadi relawan handal kegiatan kemanusiaan untuk pengungsi Somalia. Semoga rencana ini dimudahkanNya, dan anda semua masih bersemangat meneruskan ikhtiar kemanusiaan untuk muslimin Somalia yang tengah dirundung kemalangan ini. (Iqbal Setyarso- bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s