Catatan dari Tanduk Afrika (2)


Olo…… Kambing-kambing pun Berlarian Naik Truk


400-an ekor kambing amanah pekurban Indonesia untuk pengungsi Somalia lewat program Global Qurban bersama Komite Indonesia untuk Solidaritas Somalia (KISS), sudah tersedia. Tak disangka, kebutuhan sejumlah itu bisa disiapkan dalam waktu singkat. Seru juga menaikkan kambing-kambing itu ke atas truk.


Menjelang sore, setelah menurunkan barang di hotel, Sulaiman, relawan KISS yang asli Garissa, siap mengantar kami meninjau ternak yang akan dibawa ke Dadaab untuk kurban esok hari. Sekitar 15 menit dari hotel, kami sudah menemui sekumpulan relawan yang sudah menghimpun 400-an ekor kambing, di sebuah tanah lapang di kanan jalan besar Garissa-Dadaab. 


“Truk sudah siap. Kambing-kambing juga sudah siap. Kami himpun ini dengan sepuluh relawan dari kampus Universitas Mustaqbal,” ujar Sulaiman, alumnus Bahasa Indonesia dari Fakultas Ilmu dan Budaya Universitas Gajahmada Yogya ini. 


Sepuluh relawan yang dibantu peternak lokal pun, bergerak mencoba menaikkan kambing-kambing itu ke atas truk berukuran besar. Makan waktu satu jam lebih. Masuk separuh, yang lain bercerai berai lagi. Begitu beberapa kali, sampai kemudian Omar, pedagang ternak dan pebisnis macam-macam komoditi, punya akal menaikkan seekor kambing jantan bertanduk. Ia sendiri berteriak memanggil kambing-kambing lainnya dari atas truk. Dari mulutnya terdengar teriakan, “Olo olo olo…….”


Mbeek…mbeeek. Kambing-kambing lainnya sebagian manut digiring ke atas truk. Debu mengepul, dan sebagian besar kambing sudah di atas truk. Tinggal sepertiga lagi. Akhirnya, beberapa relawan menutup pintu bak  Kambing yang tersisa, satu persatu, digendong dan dinaikkan dari bak belakang yang sudah ditutup. 


Subhanallah. 400-an ekor, termuat sudah di dalam truk. Beberapa ekor, diturunkan lagi karena dinilai tak layak untuk kurban. “Yang ini, matanya sudah berair (belekan, Red.), kami tolak. Yang ini kurus sekali,” ujar Omar, menyortir kambing-kambing itu. 


Sebelum rombongan pembawa kambing itu bertolak ke Garissa, Sulaiman minta tiga relawan menemani kambing-kambing menuju Dadaab. 


“Besok pasti banyak kambing di pengungsian. Saya tidak ingin kambing-kambing kita berbaur dengan yang lain. Saya minta izin menempatkan tiga relawan sampai besok.”


“Silakan. Sebelum berangkat, kumpulkan teman-teman. Saya jelaskan prosedur pelaporannya,” ungkap Andhika, sambil memberi contoh pengisian form kurban. Para relawan nampak mengerti. 


Di seberang jalan, selama “keributan” kami menaikkan kambing-kambing ke Dadaab, beberapa kali melintas rombongan gembalaan dengan ratusan kambing menuju pusat-pusat pendistribusian kurban. Mudah-mudahan, sejenak hati para pengungsi terhibur, juga gizi mereka tersantuni setelah menyantap makanan alakadarnya, sesekali bantuan kemanusiaan dari berbagai pihak. Situasi memaksa mereka, meski pasti tak ada mimpi sama sekali untuk berlama-lama hidup menanti belas-kasih orang.


Pembaca, muliakan muslim Somalia. Menolong mereka, juga menolong siapa pun, melintasbatas negeri, jelas sebuah cara memuliakan diri kita sendiri. Mudah-mudahan kerja Tim KISS, bersama anda semua sebagai penyokong aktif, bisa memuliakan bangsa yang sejatinya giat bekerja ini. (Iqbal Setyarso –bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s