Catatan dari Tanduk Afrika (3)



Jiwa Seni Saya Bergolak 

Seniman, punya kepekaan berbeda dibanding orang lain. Karena kepekaan itu, ia bisa menuangkannya dalam berbagai wujud karya seni. Salah satunya, sketsa. Farid Shan, pelukis sketsa asal Bangkalan, Madura, mengaku jiwa seninya bergolak. Afrika, khususnya krisis Somalia, menuntunnya untuk bisa menuangkan banyak gagasan sketsa. 


“Ada tiga hal yang membuat saya sangat bersemangat sejak dari Nairobi sampai masuk Garissa. Pertama, alam Afrika Timur, sangat khas, eksotik sebagai obyek goresan sketsa bahkan lukisan. Kedua, manusianya, sangat kuat karakternya. Ketiga, budaya mereka, seperti pakaian dan bangunan tradisionalnya,” ungkap Farid dengan sorot mata berbinar-binar.


Hal lain yang membuatnya bersemangat, tantangan untuk berkarya di negeri yang sedang krisis. Bahkan krisis keamanan. 


“Saya merasakan, banyak mata memandang curiga pada orang asing. Kesan pribadi tertutup, terlihat di jalanan. Di samping itu, ada daya tariknya. Sorot mata orang Afrika. Pandangan matanya seolah mengatakan, ‘inilah aku dengan ketahananku, inilah aku dengan deritaku’. Mereka secara fisik, memang melarat, menjadi pengungsi, tapi secara kejiwaan sangat tegar,” ungkap ayah dua anak yang menikah dengan gadis asal Majelengka ini. 


Soal alam Afrika, Farid menguraikan, pemandangannya khas. Hanya ada di Afrika. Ini pasti menarik untuk pelukis manapun. Mengabadikannya dalam sketsa, sebuah kebahagiaan tersendiri buatnya.  


Soal manusia Afrika, Farid punya komentar tersendiri. Katanya, pengungsi dari Somalia ini, rumahnya boleh seperti sarang burung, dibangun dari batang kayu dan ranting kering, tapi mereka pantang menadahkan tangan. 

Semiskin-miskinnya pengungsi Somalia, mereka tidak mengemis. “Saya kagumi sikap itu. Beda benar dengan Jakarta misalnya, banyak orang tidak malu mengemis meski fisiknya segar bugar,” ungkap Farid.


Banyak kemiripan orang Somalia dengan orang Madura. “Kami sama-sama pakai sarung. Suasana religius mudah terlihat dalam keseharian orang Somalia. Perempuannya hampir tak pernah terlihat berjalan sendirian, dan pakaiannya selalu islami, menutupi semua auratnya. Mata seni saya merasakan keindahan, kaum Hawa tertutup dengan pakaian islami, ditiup angin panas di siang hari dengan warna-warni matang seperti hitam, abu-abu, atau hijau tua,” ungkap alumnus Sekolah menengah Seni Rupa Jogja ini. 


Lalu soal budayanya, tak kalah kuat. “Alam yang keras, melahirkan ekspresi budaya yang juga kuat. Lihat saja, bagaimana mereka membangun tempat tinggal, rumahnya berbentuk limas atau jamur, dengan rangka ranting dan kayu kering, saat hujan, mereka bisa melapisi rumahnya dengan lumpur. Luar biasa, zaman internet ini, masih ada orang membuat rumah seperti cara suku-suku primitif, dan kemana-mana jalan kaki,” kata Farid, menumpahkan kekagumannya.


Yang jelas, Farid masih memiliki cadangan besar semangat. “Saya masih penasaran.  Saya harus bisa menggali visi mereka tentang kehidupan. Saya siap-siap difasilitasi berdialog dengan seni lukis, dengan anak-anak pengungsi Somalia,” ungkapnya.


Pembaca, seperti Anda ketahui, misi ACTion Team III Komite Indonesia untuk Solidaritas Somalia (KISS) – ACT kali ini selain bantuan pangan (Qurban for Somalia dan Milk for Somalia Kids), adalah melakukan rekaman kemanusiaan bermedium sketsa. InsyaAllah, sketsa goresan Farid, akan menjadi alat kampanye kemanusiaan, bukan sekadar kepedulian dan donasi, tetapi juga jalan menuju perdamaian dan pembangunan sosial Somalia. (Iqbal Setyarso – bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s