Catatan dari Tanduk Afrika (4)


Pancaran Keriangan di Garissa


Waktu sudah cukup siang untuk ukuran Indonesia. Ternyata tidak untuk Garissa, kota yang letaknya sekitar 400 km sebelah timur Nairobi, ibukota Kenya, Afrika Timur. Pukul 7.30 waktu setempat, shalat Iedul Adha dimulai, Ahad, 6 November 2011. Suasana hari itu, berbeda dengan sehari sebelumnya. Kegembiraan menghias wajah-wajah penghuninya. 


Saat Sulaiman, pemandu kami di Garissa, datang menjemput, kami sudah berpikir, jangan-jangan kita hari ini tidak shalat Ied. Ternyata tidak. 

“Tigapuluh menit waktu kita ke lapangan. Jalan saja, banyak pahala,” ujar Sulaiman. Kami bergegas ke lapangan yang ternyata tidak benar-benar dekat . Di depan sebuah pusat perbelanjaan, Sulaiman menghentikan sebuah mobil pribadi, mengajak kami menumpang. Mobil salah seorang kenalannya.


Sulaiman datang berkemeja batik, sementara saya dan Andhika berbaju koko. Saya malah siap dengan peci, sarung dan koko putih. “Mas Iqbal jadi kayak orang Somalia,  Sulaiman malah kayak orang asing, karena dia pakai batik sendiri,” ujar Andhika, Jadilah, kami meluncur ke tempat shalat dengan mobil sedan Toyota paling populer di Kenya, bukan hanya di Garissa, jenis yang mempunya bagasi lebar di belakang. Orang-orang Somalia banyak wirausahawan, dan desain sedan dengan bagasi luas: Toyota Probox 1500 CC yang dirilis pertama kali tahun 2002, cocok untuk membawa dagangan. 


Lokasi shalat Ied hari itu, di General Mahmud Mohammed IDD Prayer Ground, lapangan seluas Senayan meski tanpa tribun, khusus untuk ibadah umat Islam. Ribuan orang, datang bermobil, naik truk atau jalan kaki. tak kurang dari tiga ribuan jamaah. Meski beralas tanah, sajadah, tikar atau koran, jamaah tidak banyak terlihat menyiapkan alas shalat. Mereka bisa langsung duduk di pasir. Pakaian jamaah rata-rata polos, terutama kaum perempuan. Hitam, abu-abu, coklat, banyak dipakai kaum Hawa, sementara pria dewasa banyak bergamis putih atau abu-abu. 


Pakaian jamaah, bagus-bagus. Tak bisa dibedakan mana warga lokal, mana pengungsi. Shalat berlangsung tertib, meski seperti juga di lapangan di Indonesia, anak-anak lalu-lalang, susah ditertibkan. Usai shalat, khutbah berlangsung dalam bahasa Arab. Jamaah sudah tidak bisa duduk manis. Panas menyengat, barisan tidak serapat saat shalat. Sebagian malah memilih berkerumun di depan khatib. 


Usai shalat Ied, kami berjalan kaki kembali ke Hotel Ainul Qamar. Melintasi gubuk-gubuk kumuh milik pengungsi. Jamaah berbusana bersih dan rapi itu, tak sedikit yang ternyata pulang ke gubuk setinggi orang dewasa itu. Penjual kue, telur rebus dengan saus, dikerumuni anak-anak. Beberapa ibu, nampak juga membeli kue. Sesaat, seolah “suasana muram” pengungsian, lenyap. Semua memeriahkan Iedul Adha. 


Kami diajak sarapan. Sulaiman  mengajak kami ke restoran tepat di bawah bangunan hotel. Memasuki lorong-lorong, berkamar-kamar, dengan jendela berteralis. Tak ada keindahan atau suasana selayaknya rumah makan. Lebih mirip kotak-kotak sel, bedanya, ini ada meja makan dengan gelas aluminum dan teko air sejuk dan bangku panjang seperti biasa kita lihat di warung angkringan. Menunya pun terbatas.


Belum usai pesanan datang, pelayan meminta kami pindah. Ruangan rupanya sudah dipesan dua keluarga. Kami menyingkir, naik ke ruang makan – tepatnya area makan dengan meja panjang, satu lantai dengan kamar tempat kami menginap. Mejanya panjang, dengan beberapa kursi plastik di sekelilingnya.


Sarapan kami datang. Daging onta rebus dengan bumbu minimal – nyaris tawar, irisan wortel dan paprika juga amat minim. Pengganti nasi, lembaran tandoor, tepung gandung goreng dan agak alot, ‘pas’ dengan alotnya daging onta yang tersedia. Kami menyantapnya dengan siraman sup, mirip kari tapi lebih encer. 


Sarapan ini, sangat mengganjal, karena sampai tengah hari kami tidak sempat (dan tidak menemukan) warung makan di Dadaab, perut tak seberapa tersiksa. Usai shalat, kami sudah dinanti pengungsi di kamp Ifo, Dadaab, untuk membagikan daging qurban amanah dari pequrban Indonesia. Benar, suasana Ied, menyaput muram yang menggayut. Semoga ini juga momentum menata hari-hari selanjutnya, menjadi lebih baik. (Iqbal Setyarso – bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s