Catatan dari Tanduk Afrika (5)


Debat Panjang Para Janggut Merah


Usai makan siang, kami sudah harus menuju Dadaab, tepatnya ke kamp Pengungsi Ifo. Pemandu kami kali ini, Ibrahim Husein, pengusaha muda Garissa. Dia juga pemasok kebutuhan Qurban for Somalia – KISS. Perjalanan sekitar empat jam ke Dadaab, dengan kendaraan 4 Wheel Drive, disopiri John Karimi, warga Kenya kelahiran Provinsi Mount Kenya yang pandai bahasa Swahili selain Inggris dan bahasa ibunya.


Perjalanan pagi menjelang siang, tak selancar yang diharapkan. Berbeda dengan rute Nairobi-Garissa, kali ini dari Garissa-Dadaab, selain jalanannya belum diaspal, melintasi sejumlah check-point dengan pengawal bersenjata. Adakalanya, check point diawasi AP alias Administration Police yang berseragam kemeja biru laut, celana panjangnya biru tua. Tapi kadang, polisi bersenjata dengan kendaraan patroli, melakukan pemeriksaan lebih ketat. Kerap kali mereka menghentikan kendaraan tertentu, memeriksa beberapa menit lalu menawarkan pengawalan sampai ke lokasi.  Mereka berkemeja hijau lumut dan celananya hijau gelap.


Perjalanan kami ke Dadaab, sempat dihentikan polisi. Kelompok pertama, satu mobil. Mereka mengusut tujuan perjalanan, meminta kami memperlihatkan paspor dan mengingatkan risiko perjalanan ke Dadaab. 


“Kalian dengar, ada bom meledak di Garissa? Kalian tidak aman ke sana.”


“Kami yakin tak apa-apa. Tujuan kami ke kamp Ifo. Sebagian mereka keluarga saya,” ujar Ibrahim. Pengemudi kendaraan sewaan kami, John  Karimi juga menimpali dalam bahasa  Kenya.


“Saya sudah beberapa kali ke Dadaab. Tidak pernah ada masalah. kali ini juga pasti tak ada masalah.”


“Kamu tanggung sendiri, hah! Oke, jalan.”


Usai pemeriksaan itu, John nyeletuk. “Mereka ingin mengawal kita. Sayang-sayang, buang biaya. Toh ke tempat pengungsi belum pernah dan tidak mungkin jadi sasaran bom,” ungkap John, sambil tertawa.


“Betul. Kalau ada penculikan, selektif sekali. Siapa pun pelakunya, belum pernah saya dengar menculik pihak asing yang bukan kulit putih. Apalagi mengusik program bantuan untuk dakwah atau dari lembaga muslim,” imbuh Ibrahim.


Kami nyaris kehilangan rasa khawatir, setiap kali mengalami pemeriksaan polisi bersenjata sepanjang Garissa-Dadaab. Sampai kemudian, dua mobil polisi, menghadang. 


“Mau  kemana? Bawa apa?”


“Ke Dadaab. Kami ditunggui relawan yang sudah mempersiapkan pemotongan kambing di sana,” ujar Andhika. Penjelasan Andhika kurang meyakinkan petugas. Ibrahim menimpali dalam bahasa Kenya. 


“Saya yang bawa kambing mereka, untuk pengungsi di daerah saya. Kambingnya kemarin di antar, sekarang mereka akan menyaksikan pemotongan hewan kurban itu. Ini mandat para pequrban dari Indonesia.”


Lama, paspor kami di tangan mereka. Dibuka lembar demi lembar, oleh petugas tak berseragam. Nampaknya, pangkatnya paling tinggi. Tak lama, anak buahnya berpangkat sersan, mengingatkan,”Demi keamanan kalian, harus dikawal. Perjalanan masih jauh.”


“Terima kasih. Kami seperti pulang ke rumah. Saya orang Dadaab, sekarang tinggal di Garissa. Saya sudah sering ke Dadaab,” kembali Ibrahim menegaskan keengganannya melibatkan pengawalan. “Saya tahu, ke Dadaab itu aman. Terima kasih atas tawarannya,” pungkas Ibrahim.


Tak lama, paspor sudah kembali ke tangan kami. Perjalanan pun berlanjut. Cuaca amat terik meski beberapa tempat terlihat genangan bekas air hujan. hewan-hewan liar seperti burung-burung, tupai gurun, sampai kadal gurun yang agak besar (tak sebesar komodo, seperempatnya), melintas di jalanan. Keledai-keledai, atau puluhan unta dalam rombongan berbeda, digembalakan ke wadi untuk melepas kehausannya.


Tepi jalan yang begitu lamanya kering-kerontang, banyak terlihat hijau kembali. Lepas tengah hari. Segera Ibrahim mengumpulkan relawan yang sudah disiapkannya. Arahan dimulai. Andhika pun menjelaskan prosedur penyembelihan, keharusan memotret hewan kurban sebelum dan sesudah dipotong dengan menerakan nama pekurbannya. 


Belum tuntas penjelasan Andhika, beberapa tokoh berjanggut merah – menandakan usia lanjut karena mereka menyemirkan hena (pewarna herba untuk rambut) berwarna merah atau selain hitam, pada janggutnya yang memutih. Suara-suara keras, saling meni jimpali. Keramaian debat itu, memancing pengungsi lainnya mengerumuni. 


Sementara itu, Farid Shan yang tadinya sudah mood untuk melukis, merasa kaget teriakan-teriakan dari kerumunan pengungsi. Apalagi, beberapa di antaranya yang mendapat tugas sebagai jagal, mengacung-acungkan pisau jagalnya. Farid menepi, lalu masuk mobil. “Saya pusing Mas, panasnya di luar bukan main. Yang mau diberi qurban, malah kacau,” ujar Farid. 


Saya yang mengamati ketegangan itu, jadi merasa prihatin. Bisakah mereka diatur? Bagaimana mau segera dipotong dan dibagikan, kalau yang  tua-tua saja berkelakuan seperti anak kecil. Di tengah bersitegangnya tokoh tua, muncul suara lebih tegas dan cepat. Si empunya suara keras itu, mendekati dan berbicara kepada Andhika selaku team leader penyaluran kurban untuk Somalia. Pembicaraan itu disaksikan para tokoh yang tadinya ribut-ribut.


“Di sini, mereka tak mau dibawahi siapa-siapa. Kami juga tak mau diperalat lembaga ini-itu. Pastikan, ini bukan seremonial, tapi betul-betul pemberian untuk pengungsi di sini. kedua, percayakan, saya yang mengatur mereka kali ini. Kami tidak hanya memerlukan daging. Kami, anak-anak kami perlu bersekolah, tempat berteduh yang layak, kesehatan dan pangan bergizi. Jadi, jangan sekedar memberi sedikit daging, lalu pergi,” ujar pemuda yang kemudian bisa didengar para pemicu keributan. 


Maklum, pemuda berjiwa pemimpin ini, selain tegas, bisa berbahasa Inggris, sementara tokoh-tokoh termasuk yang berjanggut merah tak faham bahasa Inggris. Dia, Idle Abdi Adow (33), mendiami Kamp Ifo Bulakheir, Dadaab Division, Ketua Pemuda di distrik itu. Kami saksikan langsung, sikap khas para sesepuh Somalia di Dadaab. Mengingatkan kisah zaman Nabi dan sahabat. Apa itu? Saat ada yang bersuara tinggi, seseorang yang tidak ikut emosi, mengelus janggutnya. Si empunya suara keras itu, akan meredakan emosinya sampai akhirnya kembali normal.


“Jadi apa gagasan yang Anda tawarkan?”


“Satu kambing satu keluarga.”


“Kalau itu dijalankan, Anda jamin situasi terkendali?”


“Saya jamin. Mereka juga berjanji untuk tertib.”


Maka dimulailah pemotongan hewan kurban. Prosedur satu hewan dua kali dipotret, sesuai prosedur program kurban, berjalan lambat. Sekitar pukul 17,00, hewan amanat pekurban BMH, 72 ekor, baru tuntas dipotong. Seluruh tim telihat kepayahan. Kami masih harus kembali esoknya.


Perjalanan Dadaab-Garissa sampai matahari tenggelam, dan jalanan makin gelap kecuali saat melintas mobil-mobil dari Garissa atau dari arah Dadaab. Siangnya rupanya hujan turun, membuat jalanan lebih licin. Sebuah truk nampak tertahan karena terjebak lumur. Kendaraan yang kami tumpangi nyaris mengalami hal yang sama. Mujur, John Karimi piawai mengemudi.


Kami bisa tiba di Garissa, sekitar 19.00, saatnya membersihkan badan terasa lengket karena berkeringat. Malam ini kami harus melakukan rileksasi karena esoknya kami pergi lebih pagi. Rencana itu terlaksana sesuai rencana: berangkat pukul 07.00, tiba pukul 09.20, lancar tanpa ada “tawaran pengawalan” di jalan.


Tiba di lokasi, Ibrahim, relawan sekaligus pemasok kambing program “Qurban for Somalia”, melobby Andhika untuk menerapkan gagasannya. “Kami pasang spanduk lembaga sebelum hewan dipotong, sesudahnya, kambing-kambing itu segera dipotong serempak dan dibagikan untuk mereka,” jelas Ibrahim. 


Andhika menolak cara ini, meskipun Ibrahim mengeluhkan, cara dengan pemotretan, terlalu lama, sementara hari kian panas dan antrian sudah lama menunggu.

“Karena itu, segera mulai, biar segera selesai,” ujar Andhika, mempertahankan prosedurnya. Ini sesuai mandat pequrban. Perdebatan berakhir, pemotongan dimulai. Kali ini pengungsi dua kali lipat lebih banyak dibanding kemarin. Meski begitu, bisa dipaksa tertib karena relawan qurban menyewa beberapa tenaga pengamanan bersenjata. Merekalah yang membuat tali pembatas antara area pemotongan qurban dengan calon penerima.


Kelancaran itu, salah satunya, karena malamnya Ibrahim bergerilya ke kamp pengungsi, membagikan kupon untuk ditukar kambing kurban yang sudah dipotong. Selain  karena ‘petugas swasta bersenjata’ ikut mengamankan. 


Pelajaran dari Dadaab, provinsi North Eastern, tentang aksi kemanusiaan yang terpaksa (atau dipaksa) melibatkan pengawalan bersenjata. tentang sebuah kawasan di mana kekuatan formal belum bekerja optimal, sementara demokrasi menuntut pemurnian pelaksanaannya. Andai warga Somalia, juga warga Kenya di wilayah yang belum sepenuhnya sejahtera seperti Garissa (ibukota provinsi North Eastern), apalagi Dadaab, tahu pengalaman Indonesia, mereka tak bakal mendewakan demokrasi. 


Apa pasal? Beberapa daerah di Indonesia, melalui demokrasi telah membuahkan kepemimpinan yang tidak mumpuni, akhlak jeblok dan manajemen pemerintahannya payah. Namun, apaboleh buat, mereka memimpin karena memenangi pemilihan langsung. Andai mereka mafhum pengalaman Indonesia…..  (Iqbal Setyarso – bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s