Qurban untuk Korban Lapindo


Ahad, 11 Oktober 2011, Akhirnya pagi itu datang juga. Sebuah hari yang dinanti oleh sebagian para korban lumpur panas di kawasan Porong Kabupaten Sidoarjo. Yak… Hari Raya Qurban atau Idul Adha. Hari di mana identiknya masyarakat yg mampu memberikan hewan qurban untuk di sembelih dan memberikan sebagian dari dagingnya untuk di nikmati oleh yg berhak.

Sekilas saja mengapa daerah ini sangat pas untuk di laksanakan Global Qurban ACT. Masyarakat RT 14 RW02 Desa Mindi Kecamatan Prorong ini telah 10 tahun lebih merasakan derita akibat luapan lumpur panas yang  sampai saat ini tidak jelas kapan akan berakhir. Hari-hari mereka terus berdebar menanti dan menanti apakah yang akan terjadi pada luapan lumpur itu. Perjuangan tanpa henti pun terjadi hampir setiap hari. Mereka menuntut untuk wilayah mereka masuk kedalam peta terdampak bencana lumpur.


Sangat beralasan memang, karena letak tanggul hanya kurang dari 200 meter lokasi mereka. Berbagai bentuk kecemasan pun selalu mereka hadapi hari demi hari. “yaaah musim ngene iki mas (musim hujan).. sing ngarai was was. Umpomo tanggul e jebol…entek kabeh wong kene mas.” (yah musim begini ini mas (musim hujan) yang membuat was-was. Kalau sampai tanggulnya jebol. Habis semua orang di sini. Ungkap Abah Sholeh salah satu tokoh masyarakat di RW ini yang merupakan penghubung antara MRI Surabaya dan warga.

“jenengan tingali mawon teng omah-omah warga..hampir roto gak onok isi ne opo-opo. Onok sing wes di dol gawe urip,  sebagian onok  sing di ungsikan nang ngon lio ben nek tanggul e jebol… karek mlayu awak tok. Ora usah mikir harta” (Anda bisa lihat sendiri di rumah-rumah warga. Hamper rata ga ada isinya apa-apa (harta.red) selain di jual untuk biaya hidup, sebagian ada yng di ungsikan ke tempat lain. Kalau tanggulnya jebol tinggal lari badan saja. Nggak pake lagi mikir harta.” tambah Hani yang merupakan tokoh pemuda.

Belum lagi dampak sosial lainnya. Seperti air untuk minum yang harus mereka beli karena air sumur sudah tidak bisa di pakai sampai adanya warga desa yang (maaf) gila karena kehilangan sawah sebagai mata pencahariannya. Banyaknya kepentingan politik dari berbagai macam pihak membuat desa ini semakin rawan. Belum ada solusi kongkrit baik dari pemerintah ataupun pihak-pihak lain yang mengaku bertanggung jawab untuk kejelasan nasib mereka.

Meski demikian adanya, masyarakat setempat tetap antusias menyambut rombongan MRI Surabaya, yang akan melaksanakan Global Qurban ACT yang merupakan amanah dari para donator di kawasan itu. “Woy…wedhus e teko…” teriak anak-anak kecil memanggil teman-temannya dan kemudian berlarian menghampiri kendaraan yang membawa rombongan kambing. “Wee…wedhus e gede-gede” (waah..kambingnya besar-besar)” seloroh seorang ibu yang melihat tim MRI Surabaya menurunkan hewan Qurban dari kendaraan. 


Anak-anak kemudian berebut untuk bermain sejenak dengan hewan qurban sebelum di sembelih. Para bapak bersiap mengasah pisau, membuat lubang untuk menjagal dan menyembelih. Kedatangan kami memang sangat dinantikan di tempat ini. Rasa bahagia warga terasa sekali menyambut kami, meski tidak di ungkapkan dengan kata-kata. Hal itu terlihat dari senyum sumringah dan senyuman mereka.

Tak lama kemudian Qurban dilaksanakan, Qurban di laksanakan para warga yg sejak pagi telah berkumpul di rumah Pak Tarto yang merupakan tokoh masyarakat. Sengaja memang qurban dilaksanakan di rumah warga agar mushola yg berhalaman kecil tidak kotor oleh noda darah dan sampah yang timbul dari kegiatan qurban ini. 1 demi 1 hewan qurban berupa kambing di sembelih oleh jagal setempat.


Kaum adam  dengan cekatan menguliti dan meotongnya menjadi beberapa bagian. Para ibu dan remaja putri kemudian memotong daging menjadi bagian kecil dan menimbangnya. Sungguh kerja sama yang kompak dari seluruh warga terlihat dalam kegiatan itu. Silaturahim yang erat antar warga satu dan yang lain terlihat jelas dari candaan yang mereka lontarkan saat bekerja bersama. Sebuah hal mahal yg susah untuk kita temukan di kota.

Sehingga dengan kekompakan tersebut tak sampai tengah hari, seluruh pekerjaan rampung. Tak tampak adanya pilih kasih dalam pembagian daging qurban tersebut. Seluruh kresek terisi daging dan tulang serta bagian jeroan dengan takaran yang sama. Tak Nampak pula kerumunan warga yang antri berebut untuk mendapatkan bagian. “di sini aman yah pak… gak ada yg berebut meminta daging qurban kaya di tempat lain…???” tanyaku pada kelompok bapak yang sedang melepas lelah.


Kemudian pak Ayub salah satu warga menjawab “iya mas…di sini asal adil, seluruh warga pasti nerimo (pasrah) nggak ada rebutan. Sebenarnya itu juga prinsip warga sama pihak LA***DO, kita sering demo (Demonstrasi) bukan minta apa-apa kok. Cuma minta keadilan” . kemudian warga lain menambahkan “piye maneh mas..sampean delok dewe mas.. nang kunu iku wes tanggul (lumpur), iso ae jebol sak wayah-wayah. Trus piye nasib warga kene nek jebol tapi gurung di wenehi hak e. Moso iku sing di arani adil” (mau gimana lagi mas… anda lihat sendiri sebelah situ sudah tanggul lumpur, bisa saja jebol sewaktu-waktu. Terus nasib warga sini gimana kalo jebol tapi belum di berikan hak. Masa itu yg namanya adil)

Di akhir kegiatan sebelum kami rombongan MRI Surabaya berpamitan, seluruh warga menyampaikan terima kasih atas perhatian dan kepedulian untuk berbagi qurban bersama mereka. “Suwun yo mas mbak… tolong di sampek no karo sing nang (ACT) Jakarta, kabeh warga iki ngucapno suwun sanget. Yo njaluk tulung sampek no gawe donator sing qurban iki… kabeh warga ga iso wenehi lio-lio. Mung dungo Semoga Qurban ne barokah, di ijabah karo Gusti Pageran lan rejeki ne di tambahi supoyo taun sesok iso qurban maneh nang kene (Porong).” (Makasih yah mas mbak.. tolong di sampaikan buat yang di ACT Jakarta, semua warga ini Cuma bisa mengucapkan terima kasih banyak. Juga minta tolong sampaikan ke donatur yang qurban ini…semua warga nggak bisa kasi apa-apa. Cuma doa semoga qurban nya barokah, di terima sama Allah SWT, rejekinya di tambah supaya tahun depan bisa qurban lagi di sini.) Ungkap Abah Soleh.


Itulah sepotong cerita Global Qurban ACT dari Desa Mindi Kecamatan Porong. Qurban dari (Donatur) ACT untuk sekelompok warga yang menjadi Korban semburan lumpur panas. Akhir dari Global Qurban ACT Untuk Korban Lumpur Panas Sidoarjo.


Elid/MRISurabaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s