Catatan dari Tanduk Afrika (7)


Mogadishu: Metamorfosis untuk Eksis  

Dari kota terindah di Afrika – bahkan salah satu kota terindah dunia, selepas 1990-an, merosot menjadi kota centang-perenang, fisik kota maupun sistem sosialnya tidak stabil. Kendati demikian, kota Mogadishu, ibukota Somalia yang saat ini di bawah Pemerintahan Transisi, terus berdenyut dengan dinamika dan adaptasinya yang unik.  

Suatu siang menjelang sore, perjalanan Bandung Jakarta dengan bus, Farid Shan, pelukis yang baru mendapat tawaran untuk membuat sketsa kemanusiaan di Somalia,  tengah menerima telepon dari seorang kawannya, Lenny, vokalis profesional yang menikah dengan orang dari Kenya. Di sebelahnya, duduk seorang lelaki paro baya. Dalam perbincangan dengan Lenny, Farid mengatakan, ia juga akan ke Mogadishu, ibukota Somalia.

Usai saling bertelepon dengan Lenny, tiba-tiba lelaki teman duduk Farid  dalam bis menuju Lebak Bulus, Jakarta itu, berkenalan dengan Farid dan memastikan kebenaran ucapan yang didengarnya, bahwa Farid akan ke Mogadishu. Farid mengatakan, ”Insya Allah, saya akan ke sana.” 

Lelaki itu berbinar dan begitu bersemangat, mengisahkan perjalanannya di masa lalu. “Mogadishu itu kota terindah yang pernah saya datangi. Tahun 1980-an, suasanya luar biasa, kesejahteraan masyarakatnya baik, kehidupan keagamaannya sangat menonjol dan wisatawan dari mana-mana banyak hadir di Mogadishu. Bisnis juga lancar,” kata pria yang memperkenalkan diri bernama Haji Wawan, warga Depok itu. Ia sudah malang-melintang keliling dunia, termasuk beberapa negara Afrika. Dan Mogadishu, kota terindahnya.

Cerita itu benar adanya. Malah, kata warga Indonesia di Kenya, Syamsuar Efendi yang akrab dipanggil Agam, dibanding Somalia, Kenya tak ada setengahnya. Mogadishu juga kota yang amat maju, barometer ekonomi di Afrika. Sebelum pecah perang saudara di Somalia tahun 1990-an, dan pemerintahan koalisi terpecah lalu saling rebut kuasa, Mogadishu, ibukota Somalia, merupakan kota metropolitan yang sibuk. Tak sekadar indah dan menjadi tujuan wisata, kota ini juga memiliki sedikitnya empat kawasan industri yang memasok kebutuhan ekspor dari negeri muslim di timur Afrika ini.   

Farid mengaku, kisah dari haji Wawan itu memperkuat hatinya untuk hadir menuangkan karya terbaiknya, mengeksplorasi Mogadishu hari ini, menelusuri harapan rakyat Somalia yang sudah hampir dua dasawarsa dicekam konflik politik yang menghentikan peradaban di negeri muslim ini .

Sejak hari pertama masuk bandara internasional Aden Abdulle, Mogadishu, saya berkesimpulan, kota ini beradaptasi untuk tetap eksis. Rakyat Somalia yang bertahan di Mogadishu, di tengah bangunan dan infrastruktur kota yang diporak-porandakan konflik bersenjata, mengubah kotanya menjadi lebih siap menghadapi situasi pertempuran. Pengamanan kota sebagai bentuk inisiatif rakyat, berlangsung berlapis-lapis. 

Di level distrik, rakyat tak berseragam dan ‘penyedia jasa pengamanan lokal’ dengan senjata di tangan, menjaga keberlangsungan kehidupan warga. Anak-anak muda bersenapan, rata-rata jenis AK 47, menjaga sejumlah pos pemeriksaan. Di ring yang strategis, seperti bandara atau istana presiden barulah dijaga Tentara Pemerintahan Transisi. Jangan kaget, kalau gerbang bandara, punya barikade beton yang digeser dengan forklift, sehingga satu persatu kendaraan maupun penumpang yang masuk atau keluar bandara, mengalami pemeriksaan ketat.    

Hampir semua lorong, ada pos pengamanan dengan beberapa personil sipil bersenjata. Selama kami bergerak dari hotel, ke lokasi aksi kemanusiaan atau ke kantor Zamzam Foundation sebagai mitra lokal tim Komite Indonesia untuk Solidaritas Somalia (KISS) di Mogadishu, pengemudinya warga lokal yang sudah dikenal di setiap pos pengamanan.  

Pasar Bakara yang masyhur (setting film Black Hawk Down yang sukses sampai dibuat sekuel keduanya), pasar-pasar tradisional, terminal, pertokoan, perkantoran terutama layanan publik, bahkan sekolah dan penginapan dipertahankan tetap beroperasi. Beberapa saluran telepon seluler masih aktif, meskipun lebih sering tidak bisa digunakan antar operator, sehingga rata-rata pengguna handphone memakai SIM Card ganda, biasanya mereka menggunakan Hormuud dan Nation Link.   

Yang unik saat komunikasi internasional dengan handphone, baik sms maupun menelepon, nomor yang terekam pada monitor penerima selalu berbeda-beda dan tidak pernah menunjukkan nomor asli. Karena itulah, hampir dipastikan upaya membalas sms atau melakukan panggilan balasan, akan gagal kecuali pengirim di Mogadishu memberitahukan berapa nomor yang digunakannya. 

Metamorfosis Mogadishu yang cukup menyolok, terjadi pada bangunan-bangunannya. Hampir pasti, kita takkan menemukan jendela “normal”, yang bisa dibuka dan menerima cahaya matahari atau melihat pemandangan luar dengan leluasa. Jendela yang ada saja, banyak yang ditutup mati, semisal jendela di toilet bandara Aden Abdulle. Saya sempat merasa tercekik saat harus masuk toilet dan menutup pintu. Hal serupa terjadi di hotel Sahafi (dan hotel lainnya), gerbangnya seperti benteng, dengan pintu kecil dan pintu besar berbahan logam. Yang membuka dan menutupnya, sipil bersenjata. Masuk ke ruang hotel pun, hampir tak ada jendela dan teras terbuka. Semua disiapkan untuk susah diterobos dari luar.

Sedarurat-daruratnya hotel di Mogadishu, ketegangan kami  dengan suasana “sangar” kota terlipur oleh keramahan dan masakan hotel. Ahmed, chef kami di Hotel Sahafi, selalu menanyakan, kami ingin masakan apa untuk pagi? Atau sebaliknya, saat sarapan, kami sudah ditanyakan ingin apa untuk makan malam. Roti, daging onta dan ikan laut, menu yang hampir tak pernah absen. Sesekali omelet, gagal tersaji karena telur habis. Setiap sarapan, pasti tersedia roti tawar dan susu onta, selain makanan penopang lainnya. Nasi, bisa disiapkan kalau dipesan, biasanya Thai Rice atau Asia Rice yang panjang-panjang dan lebih pas untuk kebuli atau nasi goreng. Jus buah atau buah segar seperti pisang dan pepaya, selalu hadir menjadi penutup. 

Keramahan, keakraban sebagai sesama pengguna ma’awis alias sarung, mendekatkan kami dengan tamu-tamu dan pengelola hotel. Bahkan Abdurrasyid, pemilik hotel, menempatkan kami di ruangan tepat di sebelah kamar yang biasa ditempatinya. “Saya dua tahun di Jakarta. Tiga bulan di Solo, dua bulan di Denpasar. Saya kenal betul Indonesia. Indonesia negara besar yang makmur. Buatlah kehadiran Anda senyaman mungkin. Minta apa saja yang Anda perlukan, akan kami usahakan. Kami senang Anda berbuat untuk kami. Negeri kami sedang berjuang, dan insya Allah akan kembali menjadi baik dalam waktu yang tidak lama,” ungkap Abdurrasyid bersemangat. 

Mogadishu, kota indah yang tengah dirudapaksa angkara. Begitu banyak kenangan, kisah kedigdayaan dari masa lalu yang menyemangati warganya untuk kembali membangun. Saat ini, dengan semangat itulah, ia bermetamorfosis agar tetap eksis. Ketegaran warga Somalia menggenggam kemuliaan negerinya, memberi optimisme untuk memulihkan kejayaan. 

Menilik realitas di wilayah Somalia sendiri, dan komunitas warga asal Somalia di Garissa dan beberapa wilayah di Kenya, ada prinsip yang kuat dalam diri orang Somalia. Seperti ucapan seorang pebisnis dari Somalia di Garissa, “Demokrasi bukan solusi. Hanya Islam, jalan mengembalikan kedamaian Somalia. Biarkan kami bersinergi secara Islam, dengan kaum muslim sedunia, maka rahmat Allah akan datang. Jangan paksakan Somalia berdemokrasi,” ujarnya.  

Jalan damai, semoga kian dekat bagi Somalia. (Iqbal Setyarso – bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s