Catatan dari Tanduk Afrika (8)


Senyum Kecut Ala Mogadishu 


Dalam tekanan multikrisis terutama krisis keamanan, keseharian Mogadishu sesekali menorehkan sesuatu untuk membuat kita tersenyum. Hidup di tengah ketidaknyamanan, tidak bisa tegang, hikmati hidup dengan menebar senyum.  


Menginap di hotel terlaris di Mogadishu, seperti Sahafi atau Samo, jangan membayangkan fasilitas yang setara dengan tarif serupa di Jakarta. Semalam, tarif kamar standar untuk dua orang 150 USD. Mungkin saja, petugas penjaga gerbang sudah tahu, keterbatasan kami di hotel ini, sehingga tanpa pengantar apa-apa, dia memberikan potongan ranting pohon gids yang banyak tumbuh di sekitar hotel. Pohon ini nama lokalnya dalam bahasa Somalia, harari, dalam bahasa Arab, siwak, ranting yang digunakan untuk membersihkan gigi.  Kami menerimanya sambil tersenyum. “Jazakallah.”


Benar saja, hotel tak menyediakan sikat gigi. Sabun mandi pun, membuat Andhika berteriak,”Mas, sabune dari Sidoarjo.”  Kami cek kemasannya. Benar saja, sabun bermerk Liesel Flower, tertera, diproduksi PT Megasurya Mas, Sidoarjo, Indonesia. Jauh-jauh ke Afrika, mandinya pakai sabun buatan Sidoarjo.


Pendingin ruangan, sudah tua bermerk Nobel, logonya mirip National Gobel. Saya menduga, itu merk National Gobel untuk pasar Afrika tahun 1970-an, karena belakangan perusahaan joint venture Indonesia-Jepang itu – pasca pergantian kepemimpinan dari Thayib Gobel ke putranya Rahmat Gobel, berubah sama sekali, dari Nasional Gobel menjadi Panasonic-Gobel, belakangan menghapus “Gobel” dan hanya muncul brand Panasonic. 


Air untuk mandi, beraroma klorin dan agak payau, dengan pipa-pipa besi berkarat. Rata-rata pintu kamar juga sudah tua, setua bangunan utama seluruh hotel. Pintu kamar mandi tak bisa dikunci, cukup ditutup rapat saja. Lemari dinding dan mebelnya, model lama, juga televisinya pesawat jadul meski siarannya lumayan bagus. Sedikitnya ada 17 stasiun yang bisa ditangkap, tiga diantaranya TV Somalia (berbahasa Somalia), selain saluran internasional di antaranya Al-Jazeera, BBC, saluran tv kabel khusus film dan saluran yang melibatkan pemirsa berpartisipasi langsung melalui internet. Konflik membuat Mogadishu sulit membangun, meskipun tidak benar-benar melenyapkan geliat ekonomi rakyatnya.


Ini cerita soal pendingin ruangan. Sudah semalaman kami tetap merasa gerah meski pendingin sudah distel maksimal. Esoknya kami sampaikan keluhan dan lagsung diperbaiki. Malamnya, tetap belum dingin, petugas memperbaiki dan saat tak terasa perubahan, dengan ringan dia buka jendela yang langsung menghadap pantai.


“Nah, kalau masih kepanasan, begini saja. Anda memperoleh udara yang lebih segar. Oke?”


“Oke deh.” Kami tersenyum kecut.


Farid Shan, sekamar dengan saya. Suatu malam, saya tinggal sendirian, karena saya mau diskusi di kamar Andhika. “Hidup saya serasa tidak teratrur, kalau ngopinya  tidak teratur. Saya harus pesan air panas,” ujar Farid sebelum saya tinggal.


Apa yang dia alami? Tiga kali pesan hot water, yang diantar ke kamar selalu air mineral dingin. Akhirnya Farid turun ke ruang makan, menemui petugas dan minta satu termos air panas sambil menunjukkan sebungkus kopi yang ia bawa dari Bogor.    


“Alhamdulillah, baru, hidup saya kembali teratur,” ujarnya setelah menyeduh kopi malam itu. Farid, ayah dua putri, Sabrina (10) dan Auralia Jauza (6) ini, selalu rutin mengonsumsi kopi, bahkan untuk berbuka puasa. Konon, ia memang dari keluarga penyuka kopi. 


Paginya, Andhika numpang ngopi, merasakan aroma kopi Indonesia. “Sebulan ini saya minum kopi Afrika. Lain, sih, minum kopi negeri sendiri,” ungkap Andhika, relawan ACT-KISS yang sudah sebulan lebih beraksi untuk Somalia. “Kalau sudah lesu, yang bisa mengembalikan semangat saya, makanan. Menu di Mogadishu, mantap! Saya paling suka nasinya. Nafsu makan kembali normal, dan tenaga pulih kembali,” ujar ayah Aisyah Dalia Asira (2,5) ini.


Lain lagi dengan Mohammad Kaimuddin, dari PKPU. Lelaki kelahiran Buton, Sulawesi Tenggara ini, sempat tertahan di dalam toilet padahal sudah ditunggu kendaraan penjemput menuju lokasi kurban. “Perut saya kaget makan daging onta, kayaknya,” ungkap Mr Kay, begitu kawan-kawan KISS menyapanya. Belajar dari kasus Kay, Tomi Hendrajati –Ketua Tim Kemanusiaan dari PKPU untuk program Somalia, saat disuguhi daging onta, tidak menyentuh sama sekali. “Perut saya, perut kampung. Saya harus waspada, daripada mules,” ujarnya.


Teh hitam (umumnya produksi Nairobi, Kenya), menjadi minuman favorit. Semua merasa aman mengonsumsinya, termasuk Farid yang bisa ngopi dan ngeteh sekaligus, membuat petugas restoran di Hotel Nomad, Garissa, harus mengulang dua kali. ”Anda pesan teh atau kopi?” Farid menegaskan,”Saya pesan dua-duanya.”


Hal lain yang susah dilupakan, bagaimana pengemudi asli Mogadishu beraksi. Umumnya mobilnya stir kanan seperti di Indonesia, yang beda, mereeka biasa menggunakan jalan kanan, sehingga kalau berpapasan, “dijamin” membuat kita yang asal Indonesia terkaget-kaget. Tapi tidak untuk pengemudi Mogadishu yang tak pernah jalan pelan meski jalanan bergelombang atau berlobang. Bergerak di jalanan kota Mogadishu, seperti “wajib” ngebut. Maklum, waktu berinteraksi normal, amat pendek. Pukul 17.00, tak elok di jalanan, harus masuk rumah atau penginapan. Praktis, di Mogadishu kami tak pernah melakukan rapat koordinasi malam hari, atau melihat-lihat suasana kota di waktu malam.


Tak hanya itu, gaya mengemudi yang membuat kami kaget. Taher, pengemudi mobil yang disediakan Zamzam Foundation untuk tim ACT-KISS, bisa membuka pintu mobil, melongokkan kepala melihat kondisi ban belakang sambil tetap ngebut. Seperti siang itu, hari pertama kami di Mogadishu. Dalam  perjalanan menuju kantor Zamzam Foundation, Taneri dari IHH LSM dari Turki duduk di kursi depan, kami di belakang, berteriak serempak,”Watch out!”  Taher nyaris menabrak gundukan batu setinggi semeter di tepi jalan. Dengan sigap, ia mainkan stir sehingga tak sampai terjadi kecelakaan. 


Pembawaan Taher, gesit, banyak senyum, dan di hari Jumat ia senang bersedekah untuk anak-anak pengungsi seperti dilakukannya di Jumat itu di dekat bandara saat mengantar kami yang akan kembali ke Nairobi. (Iqbal Setyarso – bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s