ACT Siap Respons Bencana Banjir


Setelah kekeringan melanda sejumlah wilayah sehingga menimbulkan kerawanan pangan, kini di penghujung tahun, sebagian besar wilayah Indonesia memasuki musim penghujan. Itu artinya, bencana banjir siap mengintai beberapa wilayah yang telah menjadi langganannya.


Merespons siklus musim ini, Aksi Cepat Tanggap (ACT) telah menjalankan segenap langkah-langkah persiapan. Dalam konsep Manajemen Bencana Terpadu (Total Disaster Management) yang dikembangkan ACT, awal musim penghujan menjadi tahap Kesiapsiagaan (Preparedness), sebelum masuk pada tahap Gawat Darurat (Emergency).


Bentuk persiapan yang dilakukan yakni peningkatan frekuensi pemeriksaan kondisi alat penyelamatan saat banjir, persiapan perlengkapan kesehatan, penguatan manajemen relawan, hingga persiapan koordinasi paket bantuan jika keadaan menjadi emergency.


“Kita tentu tidak berharap bencana terjadi, namun kita sudah mesti siap jika kemungkinan terburuk datang. Persiapan ini sudah menjadi rutinitas, itulah konsep Total Disaster Management yang kita miliki,” ujar Ahmad Rifai, komanda Tim Rescue ACT. 


Tanda-tanda bakal terjadinya bencana banjir juga mulai terlihat di sejumlah wilayah. Di ibukota misalnya, hujan deras yang mulai mengguyur telah menyebaban beberapa titik tergenang air, salah satunya yaitu wilayah Pondok Labu – Jakarta Selatan. Ratusan KK dilaporkan menjadi korban banjir. ACT segera  merespons banjir di Pondok labu. 


“ACT mengirimkan relawan ke lapangan” tutur Sri Eddy Kuncoro (Ikun), tim Disaster Management Institute of Indonesia (DMII) ACT.


Seperti tahun-tahun yang lalu, di awal musim penghujan, ACT memberlakukan tahap siap siaga untuk penanganan bencana banjir Jakarta, sebelum masuk pada tahap emergency.


“ACT terus memantau perkembangan banjir di Jakarta dan di manapun serta siap terjun untuk emergency,” tandas Ikun.


Sementara itu, pemerintah memperkirakan tiga bencana berskala besar akan terjadi dalam waktu dekat, yaitu banjir lahar dingin Gunung Merapi Yogyakarta, banjir Bengawan Solo dan banjir di Jakarta. Pemerintah melakukan upaya mengantisipasi datangnya ketiga bencana tersebut.


Hal itu terungkap dalam rapat tentang penanggulangan banjir di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (14/11/2011) sebagaimana dilaporkan detik.com. Rapat dipimpin oleh Wapres Boediono, dan dihadiri sejumlah menteri terkait, Kepala BNPB Syamsul Muarif, dan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo. 


Dilaporkan oleh BNPB, di lereng Merapi, masih ada 90 juta meter kubik material erupsi yang menumpuk dan berpotensi mendatangkan banjir lahar dingin. Sementara banjir Bengawan Solo sangat mengancam wilayah antara lain Bojonegoro, Lamongan, Tuban, dan Gresik.


“Untuk mengantisipasi bencana lahar dingin ini, pemerintah sudah melakukan berbagai langkah persiapan, antara lain dengan memasang alat pemantauan aliran lahar dingin di 13 sungai yang menampung aliran lahar dingin itu ke bawah, termasuk di antaranya Kali Krasak dan Kali Code,” kata Jubir Wapres, Yopie Hidayat, usai rapat.


Untuk banjir daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo, lanjut Yopie, Menteri PU Djoko Kirmanto menegaskan hanya mungkin diatasi secara tuntas jika pemerintah membangun Waduk Jipang di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun, pembangunan waduk ini menuntut pemindahan 78.000 penduduk yang berdiam di sana.


“Sehingga, dalam waktu dekat, pembangunan waduk ini tampaknya belum menjadi pilihan pemerintah. Opsi yang memungkinkan adalah mengurangi dampak banjir dengan pengelolaan sungai yang lebih baik. Antara lain, dengan memperbaiki dinding sungai serta membangun sistem informasi banjir yang efektif,” katanya.


Lantas bagaimana penanggulangan ancaman banjir di Jakarta? Beroperasinya Kanal Banjir Timur sejak awal 2010 dilaporkan telah mengurangi banjir di kawasan timur Jakarta. Pemerintah DKI Jakarta sudah membangun dinding-dinding penahan air pasang untuk mencegah kejadian seperti 2007.


“Ketika itu curah hujan yang tinggi datang berbarengan dengan air pasang yang sehingga terjadi banjir besar,” tutup Yopie. (Ojan/Yana)


*


Rek Siaga Banjir:

Mandiri 1280004555808, Permata Syariah  0970613048, BCA 6760303818, BSM 0040119999 a/n Aksi Cepat Tanggap



keterangan foto: 

genangan air di ibukota (ayobangkitkanjakarta.com) 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s