Dari “Induk ayam” sampai bagi-bagi susu

Intan tak banyak beraktifitas hari itu. Tetangga dan keluarganya yang lain sibuk berlalu-lalang dengan urusan masing-masing. Aku mencoba menghampiri, tampaknya musibah Puting Beliung beberapa hari lalu meninggalkan duka yang dalam bagi anak usia 3,5 tahun ini.

Meski tak menolak untuk ku gendong, Intan tetap berlaku pasif. Jumat (24/2/2012) petang, angin kencang menyapu Desa Intan. Beberapa rumah warga termasuk rumahnya hancur diamuk angin yang menggila.

Desa Watte’e, Kecamatan Panca Leutang menjadi salah satu wilayah terjangan Puting Beliung, Desa lainnya adalah Elle Salemoe, Kecamatan Tellu Limpoe, keduanya berada di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan.

Intan kini berada dalam gendonganku. Seolah tak ingin berinteraksi dengan sekitarnya, ia menjadikan Susu kotak yang dibagikan beberapa waktu lalu sebagai satu-satunya objek perhatiannya. Tak jauh dari tempat kami, anak-anak seusianya terlihat asyik bermain.

Sebelum menghampiri Intan, aku dan beberapa orang kawan mencoba menghibur anak-anak korban puting beliung. Kendala komunikasi sempat menghambat niat kami, umumnya anak-anak di Desa ini memakai bahasa Daerah. Wilayah Sulawesi Selatan merupakan salah satu wilayah dinegeri ini yang masih teguh memegang budaya dan melestarikan bahasa Daerah.

Bahwa kepedulian merupakan bahasa universal ternyata benar. Tak lama kemudian suasana pun mencair, permainan ‘Induk Ayam’ pilihan mereka menjadi alat kami untuk kembali mengukir senyum di wajah mereka.

“Saya senang, karena di sekolah kami tidak jadi ulangan,” ucap Ilham, siswa kelas 3 SD spontan. “Saya senang bisa berkemah dan ngandre (makan.red) mie setiap hari,” Rahmat menimpali diikuti tawa anak-anak lain. Suasana menjadi begitu spontan dan lepas, tanpa sungkan, tanpa beban. Pembagian susu pada akhir permainan semakin melengkapi keceriaan ini.

Intan menghirup susu kotak di tangannya, aku berusaha berkomunikasi meski tak sekali pun pandangannya tertuju padaku. Dari seorang ibu yang berada tak jauh dari tempat kami, aku baru mengetahui; Intan adalah anak Janggot Sana, salah seorang korban yang meninggal saat puting beliung menerpa.

Aku tersentak, anak yang berada dalam pelukanku menjadi yatim baru beberapa hari yang lalu. Intan masih menghirup susu kotak yang terdengar mulai terkuras habis. “Mau lagi?” tanyaku. Intan mengangguk, tatapan pertamanya pun sampai padaku.

Begitu indah, begitu polos. (Elid, koresponden MRI)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s