Kisah Penjual Sayur dan Kiriman Segantang Beras

Selalu ada hikmah dalam setiap peristiwa. Bencana terbukti dapat menumbuhkan benih-benih kepedulian, bahkan dari mereka yang selama ini dapat dikategorikan sebagai masyarakat miskin. Hal inilah yang membuat mata Elin, relawan Aksi Cepat Tanggap Sumatera Barat berkaca-kaca.
 
Pagi itu, Sabtu (23/2/2012), Elin berniat membeli kebutuhan dapur posko di Pasar Lubuk Sikaping. Seorang penjual sayur tua bertanya kepada Elin, ”Apakah anak ini relawan bencana galodo  di Nagari Simpang?.

“Iya mak. Kebetulan sebelum berangkat ke lokasi bencana saya mau belanja kebutuhan relawan,” jawab Elin.

“Maukah anak menyampaikan sedekah kami kepada saudara kita yang tertimpa galodo? Tetapi kami tidak mempunyai uang kami hanya mempunyai sayur-sayur ini kami mau menyumbangkan sebagian dari sayur-sayur yang kami miliki.” ujar emak penjual sayur tersebut. Belum sempat Elin menjawab, penjual sayur yang lainnya juga menyampaikan hal yang sama.

Jadilah Elin hanya bisa mengangguk tanpa bisa menjawab karena haru yang dirasakannya. Secara spontan, ibu-ibu penjual sayur mengumpulkan sayur-sayur yang akan disumbangkannya. Dalam hitungan menit, dua kardus besar sayur-sayuran telah terkumpul. Dari terong, kol, sawi, buncis, labu siam dikumpulkan ibu-ibu tersebut dengan penuh semangat.

Sebagai seorang mahasiswa yang sering belanja ke Pasar Lubuk Sikaping, tentu Elin sangat paham, berapa pendapatan para ibu penjual sayur tersebut.  Dalam sehari, ibu-ibu penjual sayur ini hanya mengharap keuntungan ratusan rupiah untuk seikat sayuran yang dijualnya. Sering ditemui sampai siang hari sayur-sayur ini belum juga laku dan menjadi layu sehingga sering dijual tanpa memperoleh keuntungan asal tidak rugi.

Namun pagi itu Elin mendapat sebuah pelajaran yang sangat berharga. Ternyata kepedulian itu tidak hanya bisa datang dari mereka yang berlebih. Namun bahkan lebih sering kita temui dari mereka yang menurut kita kekurangan. Tak banyak yang dapat diucapkan Elin. Yang jelas tangannya gemetar menerima sayur-sayur yang dikumpulkan. Di hati Elin tertanam tekad untuk secepatnya menyampaikan sayur-sayur itu kepada korban bencana galodo di  Nagari Simpang.

Ternyata pelajaran hari itu belum usai. Di posko, saat Elin dan beberapa relawan lainnya sedang  sibuk membagi sayur sumbangan ibu-ibu penjual sayur di Pasar Lubuk Sikaping ke dalam kantong plastik, datang seorang perempuan tua mengucapkan salam. Semula relawan mengira bahwa yang datang adalah salah seorang korban bencana banjir bandang.

Perempuan tua ini mengenalkan diri sebagai Supiak dari Aia Manggih, sebuah nagari yang jaraknya lebih kurang 20 km dari nagari Simpang. Dengan lirih, ibu Supiak tua berkata, “Nak, amak dari nagari Aia manggih. Tadi ke sini naik ojek. Amak mau menyampaikan sumbangan tetapi amak malu langsung memberikan kepada para korban, karena amak hanya membawa segantang beras. Jadi minta tolonglah anak-anak yang di sini menyampaikan kepada orang-orang yang terkena galodo.”

Kembali Elin dan teman-teman relawannya terhenyak. 20 kilo meter ditempuh hanya untuk mengantarkan segantang beras. Pastilah hal ini hanya mampu dilakukan oleh pribadi yang hatinya berlebih dengan rasa peduli. Dengan rasa peduli itu, semua bisa  berbagi. Siapapun, kapanpun, dengan apapun… (jjg)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s