Banjir Rob dan Kemolekkan Ciemas

Waktu hampir sampai pada pukul 2 siang saat kamera kuarahkan ke papan nama bertuliskan Kepala Desa Caringin, papan itu berdiri tepat di depan Kantor Desa Caringin, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. Tak berapa lama lagi kami akan memasuki wilayah Kabupaten Sukabumi, pikirku.

Rabu (14/3/2012) siang tim bantuan kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) berangkat dari Ciputat menuju Sukabumi. Banjir Rob yang ramai dibicarakan media pada 5 hari sebelumnya menjadi alasan keberangkatan tim. Menurut kabar, konon terdapat 4 Desa di Kecamatan Ciemas yang tergenang banjir. Tak hanya itu, beberapa diantaranya bahkan melansir kerugian hingga Miliaran rupiah.

Bantuan pun dipacking rapi dalam mobil. Dua unit penjernih air Pure It, selimut, pakaian layak pakai, sandal, kornet, perlengkapan higienis hingga bahan makanan seperti kornet dan minuman nutrisi. Mobil Ranger tim bergerak mantap penuh dengan bantuan terbungkus terpal pelindung hujan.

Kebun teh yang menyelimuti bebukitan, ribuan pilar batang pohon karet, hamparan perkebunan sawit yang begitu luas hingga papan bertuliskan PT Wilton. Wilayah yang begitu kaya, gumamku. Kami beruntung, sepanjang jalan hari itu hujan tidak begitu gencar menerjang kami, hanya rintik saja pada beberapa titik.

Yang mengejutkan kami justeru jarak tempuh dan kondisi jalan menuju lokasi. Kami berhenti tak jauh dari terminal Tamanjaya untuk Sholat Magrib. “Masih 17 kilometer lagi Kang,” ujar salah seorang warga menjelaskan jarak yang akan kami tempuh.

Sungguh diluar dugaan, waktu tempuh ke lokasi mencapai lebih dari enam jam. Padahal rencana sebelumnya tim akan kembali hari itu juga. Tim sampai di lokasi saat jarum jam telah melewati angka tujuh malam.

Pagi hari di Desa Ciwaru begitu segar. Di jalan Desa, siswa sekolah Dasar hingga menengah atas ramai beriringan menuju sekolah yang jaraknya sekitar 1 kilometer. “Kemarin air sampai menutup jalan ini Kang,” ungkap Maman, seorang warga yang bersedia menampung kami.

Dari pemaparan Maman, terungkap kondisi banjir tidak separah yang diberitakan. Yang terkena dampak banjir paling banyak adalah sawah, namun tidak terjadi pembusukan tanaman padi karena genangan air hanya beberapa hari saja. Sedangkan rumah warga tidak semuanya tergenangi.

Akhirnya tim menyalurkan bantuan kepada warga Desa Ciwaru dan siswa Sekolah Dasar Negeri Babakan Jati. Setelah itu tim menyempatkan diri meninjau Sungai Cikalong dan Ciletu yang menjadi pemicu banjir Rob. Saat kejadian, kedua sungai ini mencapai debit maksimalnya, disaat bersamaan air laut juga pasang. Walhasil, air meluber menggenangi sawah dan rumah warga.

“Banjir sudah biasa bagi warga di sini Kang, warga sih nggak berharap banyak, kebutuhan utama wilayah ini adalah akses jalan,” kata Maman. Wilayah Desa Ciwaru dan sekitarnya memang terbilang terisolir. Tak banyak akses yang dapat ditempuh saat masuk ke dataran yang dikelilingi tebing curam dan pantai Laut Selatan ini. Sekitar 70 sampai 90 persen akses jalan yang ada dipenuhi lubang dan rusak. Namun tetap saja, wilayah ini indah. (Ojan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s